Mastitis, Masih Jadi Ancaman Bagi Sapi Perah

Hewata.com. Mastitis adalah penyakit yang paling penting untuk dihindari pada sapi perah. Mastitis ialah satu keadaan penyakit menyebar yang menyebabkan reaksi infeksi pada kelenjar susu sapi.

Mastitis atau radang ambing bisa menyerang semua jenis hewan mamalia atau menyusui seperti kambing, kerbau, sapi, termasuk manusia atau wanita menyusui dan menyebabkan penurunan produksi susu. Pada sapi perah, kehilangan produksi susu lebih besar akibat mastitis subklinis (14,6%), dibanding mastitis klinis (10%).

mastitis, mastitis adalah, mastitis itu apa, mastitis artinya, mastitis sapi, mastitis pada sapim mastitis pada sapi perah, mastitis sapi adalah, mastitis sapi perah, cara mengobati mastitis pada sapi perah, cara mengobati mastitis pada sapi, mastitis pada sapi adalah, sapi dengan mastitis, gejala mastitis pada sapi penyakit mastitis sapi

Hal itu disebabkan gejala mastitis subklinis tidak dapat langsung diketahui sehingga penurunan produksi berlangsung lama. Lain halnya dengan mastitis klinis yang dapat langsung dilihat gejalanya dan dapat segera dilakukan pengobatan.

Hasil penelitian di beberapa wilayah menunjukkan 4,1% dari total sapi perah terkena mastitis klinis. Angka itu terbesar di banding penyakit sapi perah lainnya, sehingga mastitis merupakan penyakit nomor 1 sapi perah yang menyebabkan kerugian terbesar di banding penyakit lainnya.

Meskipun tidak menyebabkan kematian tapi akibat penyakit mastitis sangat merugikan karena serangan langsung pada ambing. Bila tadinya produksi susu 15 l/ekor/hari, bisa turun menjadi 2-3 l/ekor/hari, berarti rugi 12-13 l/ekor/hari ditambah biaya pengobatannya.

Serangan mastitis  klinis lebih banyak terjadi pada peternakan besar yang pervalensinya (ternak yang terkena, red) mencapai 7%, sedangkan pada peternakan kecil hanya 3,5%.

Oleh karena pada peternakan kecil atau peternakan rakyat, jumlah sapinya sedikit dan ditangani oleh 1-2 orang sehingga kebersihannya dapat terjaga dan tidak mudah terjadi pemularan penyakit. Sedangkan pada peternakan besar sebaliknya. Mastitis subklinis prevalensinya pada peternakan besar dan kecil sekitar 64%.

Baca Juga :   Mengenal Fakta Hamster Roborovski Yang Lucu

Gejala subklinis dan klinis

Mastitis adalah peradangan anmbing yang terjadi pada ternak laktasi (masa produksi susu) yang disebabkan oleh serangan berbagai kuman, seperti bakteri, jamur, dan virus. Namun yang banyak ditemukan di Indonesia adalah bakteri Streptococcus Agalactiae dan Staphylococcus Epidermidis. Sedangkan serangan oleh virus banyak ditemukan di luar negeri.

Bakteri bisa masuk ke dalam tubuh sapi melalui lubang alami seperti mulut, hidung, dan puting, atau melalui luka. Penularan dari sapi sakit ke sapi sehat bisa melalui tangan pemerah atau kandang yang tercemar bakteri. Setelah masuk, bakteri memperbanyak diri sebelum menyerang jaringan ambing sehingga terjadi peradangan yang mengakibatkan terhambatnya produksi susu.

Pada mastitis subklinis, ambing dan putingnya telihat normal, tapi secara laboratoris susu yang dihasilkan mengandung bakteri. Sehingga pada mastitis subklinis ini penurunan produksi susu tidak disadari dan berlangsung dalam waktu lama.

Gejala mastitis klinis seperti suhu pada ambing lebih dari 38oC dan dapat merembet ke seluruh tubuh, produksi susu turun drastis bahkan bisa terhenti, susu berubah menjadi kental seperti nanah berwarna kekuningan, kadangkala berwarna kemerahan karena bercampur darah, serta amning dan puting membengkak dan berwarna merah.

Sapi yang terserang mastitis, berat jenis susunya lebih rendah dari 1.026 atau susunya pecah saat dilakukan uji alkohol. Pengujian ini selalu dilakukan ketika menerima setoran susu dari anggota. Selain itu ada juga uji fisik menyangkut warna, bau, dan rasa susu.

Baca Juga :   6 Kucing Indonesia yang Tidak Kalah Keren!

Ada juga pengalaman peternak yang sapinya terserang mastitis, katanya terdapat gumpalan-gumpalan kecil dalam susu meskipun warna dan baunya tidak berubah. Sebab, setelah dilakukan pengobatan gejala itu hilang. Namun, gejala itu bukan hanya disebabkan mastitis tetapi juga oleh pemerahan yang tidak tuntas pada hari sebelumnya.

Kuncinya kebersihan

Ada 2 langkah untuk menanggulangi mastitis, yaitu pencegahan dan pengobatan.Akan tetapi lebih baik melakukan langkah pencegahan karena biayanya murah dan belum mengakibatkan kerugian.

Kebersihan kandang sapi harus selalu dijaga. Lantai kandang selalu bebas dari kotoran dan sisa makanan sapi yanga dapat digunakan bakteri untuk berkembang biak sebelum masuk melalui puting.

mastitis

Mastitis sapi perah – via : daftarhewan.com

Karena pada saat beristirahat biasanya sapi akan tiduran di lantai dan ambingnya bersentuhan langsung dengan lantai kandang yang mempermudah bakteri masuk ke dalam ambing.

Setiap hari sebelum diperah sapi harus dimandikan agar semua kotoran yang ada di tubuhnya terbuang dan susu hasil perahan terhindar dari kotoran. Disamping itu, sebelum dan sesudah memerah puting disemprot atau dicelup dalam desinfektan untuk membunuh bakteri yang akan masuk ke dalam ambing. Pencelupan atau pencucian bisa dilakukan dengan larutan iosan.

Pemerahan susu harus dilakukan sampai habis untuk menghambat perkembangbiakan bakteri yang terlanjur masuk. Karena sisa susu di dalam ambing merupakan media yang sangat baik bagi bakteri sebelum menyerang jaringan ambing.

Baca Juga :   Apa itu Hewan Echinodermata? Inilah Penjelasannya!

Meskipun bakterinya tanpa vektor, tapi bisa ditularkan melalui tangan pemerah.Seandainya tangan bekas memerah sapi yang terkena mastitis memerah sapi yang sehat, maka menularlah bakterinya.

Oleh sebab itu, pemerah juga harus bersih. Sebelum mulai memerah dan setiap kali pindah dari satu sapi ke sapi lainnya, harus mencuci tangan dengan desinfektan atau sabun.

Hal lain yang juga patut diperhatikan, sebaiknya setiap sapi memiliki kartu catatan produksi harian, sehingga kalau terjadi penurunan produksi atau penurunan kualitas dapat segera diperiksa penyebabnya.

Selain itu, setiap menjelang masa kering (2 bulan menjelang melahirkan) semua sapi harus diambil contoh susunya dan diperiksa secara laboratoris untuk mengetahui gejala mastitis subklinis sehingga dapat segera dilakukan pengobatan.

Pengobatan sapi yang terserang mastitis dapat dilakukan dengan menyuntikkan antibiotika yang sesuai secara intramoskular (ke dalam otot) atau intramammae (ke dalam ambing). Jika pengobatan dilakukan secara intramammae cukup pada puting yang terserang saja kecuali yang terserang telah 3 puting.

Antibiotika yang digunakan harus dipilih yang sesuai dengan jenis kuman penyebabnya.Biasanya digunakan antibiotika yang mengandung campuran cloxacillin sodium dan neomycin sulphate.

Sapi perah yang terserang mastitis klinis harus segera diobati baik pada masa kering (2 bulan menjelang melahirkan) maupun pada masa laktasi.

Kalau pengobatan dilakukan pada masa laktasi, maka sebelum disuntik susunya diperah dulu sampai habis agar tidak menghambat masuknya obat. Untuk menghindari pengaruh antibiotika yang masih terdapat di dalam susu, minimal 3 hari setelah pengobatan susunya tidak boleh dikonsumsi.

error: