Pranajiwa, Khasiat dan Cara Pemakaiannya

Posted on

Hewata.com. Pranajiwa (Eucharista Horsfieldii) tergolong tumbuhan perdu tegak dengan tinggi 0,5-1,5 m. Keluarga Leguminosae ini terdapat di Pegunungan Himalaya, Filipina, Formosa, dan Indonesia. Di Pulau Jawa, pranajiwa dapat ditemukan di lereng pegunungan dengan ketinggian 1.000-2.000 mdpl.

pranajiwa, pohon pranajiwa, tanaman pranajiwa, khasiat pranajiwa, cara konsumsi pranajiwa, daun pranajiwa, habitat tanaman pranajiwa, jual pranajiwa, pranajiwa adalah, biji pranajiwa, manfaat pranajiwa, pranajiwa plant, pohon pranajiwa adalah
Tanaman Pranajiwa – via : sinta.unud.ac.id

Susunan daunnya berselang-seling dengan tangkai yang panjang, terdiri dari 3-5 anak daun. Panjang daun 10-15 cm dengan pangkal membulat dan ujung lancip. Tangkai bunganya yang muncul dari ketiak daun, tersusun secara bertandan dalam jumlah banyak. Warna bunga putih dengan ukuran 1,25 cm.

Buahnya yang berupa polong berbentuk lonjong dengan panjang 1-2 cm. Pada waktu muda, polong berwarna cokelat, kemudian berubah hitam keunguan setelah matang. Umumnya dalam satu polong terdapat satu butir biji yang besar. Biji pranajiwa ini rasanya sangat pahit.

Baca Juga :   Teknik Penyemprotan Pestisida Yang Efektif

1. Sering dipalsu

Sebenarnya nama pranajiwa digunakan pula untuk biji dari tumbuhan Sterculia Javanica dan Sterculia Macrophylla. Memang bentuk biji kedua tumbuhan itu sangat mirip dengan biji pranajiwa E. Horsifieldii.

Orang menganggap kedua tumbuhan itu sama varietasnya dengan pranajiwa asli, sehingga biji S. Javanica dan S. Macrophylla juga dianggap sama khasiatnya. Di Jogja dan Solo S. Javanica dan S. Macrophylla disebut juga kucila atatu purwa kucila.

Karena kemiripan itulah oleh penjual jamu, bijinya sering dipalsukan. Untuk membedakannya, cukup digigit saja. Kalau rasanya pahit, berarti itu biji pranajiwa yang asli. Rasa biji S. Javanica dan S. Macrophylla tidak pahit, dan kadar minyaknya tinggi.

Baca Juga :   7 Nama Buah-buahan Indonesia Paling Unik

2. Kandungan dan khasiatnya

Bijinya mengandung alkaloida cytisine yang bersifat dekongestan, yakni melegakan pernapasan yang tersumbat, seperti pada asma, batuk darah, batuk kering maupun gangguan rongga dada lainnya. Kegunaan lain sebagai tonikum, karena bijinya juga bersifat afrodisiakum yakni meningkatkan gairah seks. Di samping itu, di Filipina akar tumbuhan ini dimanfaatkan sebagai penawar bisa ular.

Pranajiwa juga bersifat emitikum (menyebabkan muntah) jika digunakan secara berlebihan, sehingga pemakaiannya harus hati-hati. Karena sifatnya ini, seringkali orang Jawa memakainya untuk mengobati keracunan makanan, dengan cara diminumkan sampai terasa mual dan memuntahkan seluruh isi perut.

3. Resep pengobatan

Untuk meningkatkan gairah seks (obat kuat) dan mengobati asma, caran penggunaan atau pemakaiannya biji pranajiwa dikunyah, ditelan atau ditumbuk, kemudian diminum dengan susu. Dosisnya mula-mula ½-1 butir tiap hari, lalu meningkat menjadi 6 butir.

Baca Juga :   Cara Menanam Kayu Manis Ceylon

Untuk mengobati batuk darah digunakan ramuan yang terdiri  dari biji pranajiwa 5 g, daun waru dipotong kecil-kecil 10 g, daun legundi muda 5 g, bidara upas 25 g, akar dan daun kaki kuda 15 g, serta kencur diparut 20 g. Semuanya direbus dengan air 500 cc sampai mendidih dan diminum 3 kali sehari sedangkan sebagai penawar bisa ular, caranya akar pranajiwa dikunyah, kemudian airnya ditelan dan ampas kunyahnya ditempelkan pada luka gigitan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.