Teknik Penyemprotan Pestisida Yang Efektif

Hewata.com. Teknik Penyemprotan Pestisida yang baik dan benar. Cara Penyemprotan pestisida yang tidak tepat bukan saja membuat organisme sasaran tidak terkendali, tapi juga menimbulkan kerugian materi dan waktu. Pada penyemprotan dikenal prinsip tepat sasaran, tepat liputan, tepat dosis, dan tepat konsentrasi.

penyemprotan pestisida, jelaskan waktu penyemprotan pestisida yang tepat, cara penyemprotan pestisida yang benar, penyemprotan hama,teknik penyemprotan pestisida ,apd penyemprotan pestisida, alat semprot pestisida otomatis, jelaskan waktu penyemprotan pestisida yang tepat, cara penyemprotan pestisida yang benar, penyemprotan insektisida, semprot pestisida, teknik penyemprotan pestisida, penyemprotan pestisida, cara penyemprotan pestisida yang benar, cara penyemprotan pestisida

Tepat sasaran artinya pestisida yang diaplikasikan mampu memberantas organisme sasaran. Untuk mencapai prinsip ini, waktu penyemportan harus tepat saat organisme berada dalam stadium yang peka.

Misalnya pada hama. Insektisida untuk hama umumnya berupa larvasida, sehingga sebaiknya digunakan untuk mengendalikan larva hama, bukan telur, imago atau pupanya karena tidak efektif. Tingkat kepekaan larva hama pun tidak sama, tergantung pada stadium instarnya. Semakin besar instar ulatnya, makin besar pula dosis yang diperlukan. Karena itu, untuk menghemat insektisida, penyemprotan lebih baik dilakukan sedini mungkin.

1. Liputan harus rata

Selain sasarannya pas, penyemprotan juga mesti diperhatikan kualitasnya. Hal yang mempengaruhi kuailtas semprotan adalah kerataan liputan dan ukuran butiran semprot. Semakin banyak jumlah butiran per satuan luas, semakin baik kerataan liputannya. Batas yang dianggap baik adalah 20 butiran/cm2. Angka ini didapatkan dari percobaan penyemprotan pada kertas berukuran luas 1 cm2 dengan berbagai dosis.

Baca Juga :   Tanaman Buah Sawo Malaysia Berbuah Sepanjang Tahun

Kerapatan butiran semprot ini bisa diturunkan, tergantung pada sifat translokasi pestisida yang digunakan. Misalnya pestisida sistemik. Lantaran pestisida ini mampu mencapai seluruh bagian tanaman, dosisnya bisa diturunkan, asalkan ukuran butir semprotnya masih cukup besar. Walaupun demikian, penurunannya tidak boleh sampai terlalu rendah, karena ini bisa menurunkan efektivitas pestisida.

2. Ukuran butiran

Teknik Penyemprotan Pestisida yang baik dan benar. Dulu ada anggapan penyemprotan pestisida perlu dilakukan sampai sasaran basah. Namun sekarang terbukti hal itu tidak benar, sebab jika butiran semprot saling “berpegangan” satu sama lain penguapan akan berlangsung lama. Sehingga Kristal pestisidanya malah tertinggal di permukaan tanaman maupun organisme sasaran.

Karena itu, ukuran butiran sebaiknya tepat untuk mencapai prinsip tepat liputan. Butiran semprot yang ideal berdiameter 250 mikron untuk insektisida dan fungisida, serta 500 mikron bagi herbisida. Ukuran ini tergantung pada jenis nozel, alat semprot dan tekanan dalam tangki sempot. Beberapa jenis nozel bisa dipilih untuk mendapatkan ukuran butir semprot yang dikehendaki.

Nozel pojilet menghasilkan butiran dengan ukuran 500 mikron. Ini cocok untuk aplikasi herbisida. Sedangkan nozel berpancaran kerucut penuh dapat memproduksi butiran berukuran lebih kurang 300 mikron. Nozel ini tepat untuk aplikasi pestisida pada pertanaman yang berbedeng-bedeng, misalnya tanaman jagung setinggi 40 cm. Dengan pancaran kerucut penuh, insektisida lebih banyak terhambur di barisan tanaman daripada di alur kosong.

Baca Juga :   Fungisida untuk Penyakit Embun Tepung

Ada satu jenis nozel lain yang berpancaran kerucut kosong. Jenis ini mampu menghasilkan butiran berukuran 250 mikron, sehingga lebih baik digunakan untuk penyemprotan pertanaman merata seperti padi, kedelai, dan kubis. Selain itu, tanaman bertajuk rimbun atau gulma pasca tumbuh dengan herbisida kontak juga baik disemprot dengan nozel ini.

Alat semprot punggung semi otomatis dengan tekanan rendah (satu atmosfer) lebih baik dipakai pada penyemprotan herbisida. Karena tekanan rendah akan menghasilkan butiran kasar. Disamping itu, penyemprotan harus dilakukan terus-menerus.

Sebaliknya, alat semprot punggung otomatis bertekanan tinggi (5 atmosfir) cocok untuk menyemprotkan insektisida atau fungisida. Tekanan tinggi ini sebaiknya dicapai sebelum pestisida disemprotkan. Agar tekanan bisa setinggi itu, pemakaian pelumas bisa membantu mempermudah pemompaan.

3. Dosis dan konsentrasi tergantung kualitas aplikasi

Teknik Penyemprotan Pestisida yang baik dan benar. Dosis menyatakan jumlah pestisida dalam liter atau kg per hektar lahan. Besarnya dosis sangat dipengaruhi oleh kualitas aplikasi. Semakin baik kualitasnya (dalam arti makin efisien penyemprotannya) makin rendahlah dosis yang digunakan. Namun dosis tidak sembarangan bisa dihemat atau dinaikkan, tergantung juga pada hama sasaran dan kondisi tanaman.

Baca Juga :   Jenis Durian Unggul Kalimantan Timur

Misalnya, dalam kasus hama helopeltis pada pucuk teh hanya diperlukan pestisida setengah dosis saja ketimbang kalau ulat api yang menyerang daun teh tua di dalam tajuk. Sebaliknya, dosis ditingkatkan pada serangan kutu loncat di pertanaman kakao, karena hama ini juga menyerang lamtoro yang berfungsi sebagai tanaman penaung.

Oleh karena itu, penyemprotan dilakukan baik untuk kakao maupun lamtoro. Demikian pula dengan kondisi tanaman. Tanaman muda atau bertajuk tidak lebat tidak perlu disemprot dengan dosis setinggi tanaman produktif atau bertajuk rimbun.

Selain tinggi rendahnya dosis, kualitas aplikasi juga mempengaruhi konsentrasi pestisida (mg atau g per liter air) yang mesti disiapkan. Bila ukuran butiran semprot besar sebaiknya konsentrasi dibuat rendah untuk mencegah keracunan pada tanaman yang disemprot. Pasalnya, konsentrasi pekat akan menghisap cairan tanaman sehingga tanaman mati kekeringan.

Jika hal-hal tersebut diperhatikan, tujuan penyemprotan untuk mengendalikan organisme pengganggu akan tercapai tanpa unsur pemborosan dan kekhawatiran pencemaran lingkungan.

error: